Tag Archives: perbedaan berita dan bukan berita

Cara Menulis Artikel ; Berita atau Bukan Berita

"TERGENDUT" ADALAH BERITA

“TERGENDUT” ADALAH BERITA

Artikel ini akan memberi gambaran kepada awam, orang-orang yang bukan pekerja pers, bagaimana dapur redaksi media mendefinisikan berita. Segala hal bisa jadi berita, tapi tidak semua hal layak diberitakan. Berita tidak harus penting dan tidak harus menarik. Berita menurut Kompas bisa dianggap bukan berita oleh Republika.

Oleh Jarar Fendi Siahaan — www.blogberita.net

Dari kaca mata jurnalistik, berita adalah informasi yang telah disiarkan untuk publik. Sebuah informasi genting dan penting belum akan disebut sebagai berita apabila belum diterbitkan di koran, majalah, atau situs Internet, disiarkan di radio atau televisi.

Contohnya begini. Kapolsek Balige mengatakan kepada wartawan, ada seorang lelaki berjenggot mirip teroris Noordin M Top terlihat di sebuah rumah kontrakan. Kabar ini diteruskan si wartawan kepada orang lain, lalu menjadi perbincangan hangat di lapo [kedai] tuak, tapi si wartawan tidak pernah menuliskannya di media tempat dia bekerja. Apa yang disampaikan Kapolsek, dari sisi jurnalisme, baru sebatas informasi dan belum menjadi berita.

Media pers bisa dibilang semacam penentu untuk “menghakimi” yang ini berita dan yang itu bukan berita.

Setiap redaksi media memiliki otoritas penuh untuk menentukan informasi apa yang akan mereka beritakan dan informasi apa yang akan dibuang ke tempat sampah. Acara seremonial di pondok pesantren Abu Bakar Ba’asyir misalnya bisa jadi berita utama di halaman depan koran Republika, tapi kegiatan itu bisa tidak dianggap berita sama sekali oleh redaksi Koran Tempo.

Nilai berita: berita tidak harus menarik

Lalu bagaimana reporter koran dan redaktur menentukan berita?

Pertama, tergantung “selera” masing-masing media, seperti contoh kasus Republika dan Koran Tempo di atas. Selera di sini pun berlapis: mulai selera reporter yang meliput, selera koordinator liputan yang memberi perintah, selera redaktur halaman yang mengedit naskah, selera pemimpin redaksi yang menentukan penerbitan, sampai selera juragan media yang merupakan penguasa tertinggi.

Kedua, berdasarkan batasan-batasan umum dalam ilmu jurnalistik, yaitu nilai berita:

  • Penting
  • Lokasinya dekat
  • Jumlah besar
  • Unik
  • Yang paling
  • Lagi ngetren
  • Orang terkenal
  • Peristiwa yang baru saja terjadi

Jangan salah paham, jangan mengira bahwa yang namanya berita haruslah menarik. Bukan seperti itu. Tidak semua berita adalah hal menarik.

kartu pers wartawan Berita dan bukan beritaPenting — Menteri Pendidikan mengumumkan, semua murid sekolah negeri akan kembali dikutip iuran sekolah; ini berita, karena penting, tapi tidak menarik. Setiap pukul 00.00 anjing-anjing di kampungmu selalu melonglong hingga membuatmu merinding; ini menarik jadi bahan pembicaraan antar-tetangga, tapi bukan berita.

Dekat — Seorang nenek [jangan tulis nenek tua] tewas tertabrak kereta api di Kota Medan bisa jadi berita halaman depan suratkabar terbitan Sumatera Utara.

Jumlah besar — Redaksi harian Waspada, Medan, tidak akan menerbitkan berita nenek ketabrak tadi karena ada berita dari tempat yang jauh, USA, 100 orang tewas keracunan makanan.

Unik — Kau kaget tiba-tiba fotomu muncul di koran lokal. Rupanya kau diberitakan karena kau selalu ranking 1 mulai SD, SMP, hingga SMA, tanpa pernah juara 2 atau 3.

PalingManusia tertinggi-manusia terpendek bertemu, berita semacam ini akan ditulis koran terbitan negara manapun.

Ngetren — Istilah Tak gendong, tak gendong…, layak jadi berita media untuk saat ini.

Terkenal — Kau ngomong kasar, mencaci-maki temanmu dengan fu** you, tidak akan pernah jadi berita koran. Ketika Presiden Obama yang mengucapkan kata itu, dijamin sukses jadi berita utama CNN. Hal-hal kecil pada diri orang terkenal seperti gubernur, anggota DPR, atau selebriti selalu jadi santapan wartawan.

Baru terjadi — Sore ini hujan lebat mengakibatkan jalan-jalan Kota Jakarta macet layak diberitakan koran terbitan besok pagi. Informasi mengenai petir menyambar rumah penduduk dua bulan silam akan masuk ke tempat sampah meja redaksi karena sudah basi.

Salah satu nilai saja dari item di atas terpenuhi, itu sudah layak disebut [calon] berita. Maka apabila kau mendengar ada wartawan berkata, “Ah, informasimu tidak menarik, tidak layak kutulis,” mungkin dia belum paham apa itu nilai berita — bahwa berita tidak harus menarik.

Jadi definisi berita tidaklah sekaku teori yang diajarkan di bangku kuliah jurnalistik — aku tidak pernah kuliah, tapi pernah kulihat buku teks seorang mahasiswa jurusan jurnalisme.

Sembilan tahun lalu semasa aku masih bekerja sebagai redaktur Radar Medan, suratkabar harian milik Jawa Pos Grup, dalam perbincangan lewat telepon dengan seorang teman wartawan daerah:

Aku: Kenapa nggak ngirim berita hari ini, Lae?

Si reporter: Kering kali, nggak ada berita hari ini, Lae.

Aku: Tapi kemarin kau bilang Bupati mau bikin jumpa-pers untuk menjelaskan kasus itu?

Si reporter: Nggak jadi temu-persnya kata Humas.

Aku: Itulah beritamu hari ini. Kok, nggak ditulis?

Yang tidak ada itu pun sebenarnya ada. Yang disangka bukan berita pun bisa jadi berita. Mirip tapi berbeda dengan “teori ateis”: Sangat mudah dimengerti oleh anak-anak, tapi bisa jadi rumit untuk dipecahkan orang dewasa

DI KUTIP DARI EMAIL BLOG BERITA


Incoming search terms for the article: