Pengertian Shalat Tarawih

Bulan Puasa identik dengan solat taraweh…. ingat puasa, ingat taraweh.

Terus….. shalat ataraweh itu apa sih?

Shalat Tarawih (terkadang disebut teraweh atau taraweh) adalah shalat sunnat yang dilakukan khusus hanya pada bulan ramadhan. Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari ???????????? yang diartikan sebagai “waktu sesaat untuk istirahat”. Waktu pelaksanaan shalat sunnat ini adalah selepas isya’, biasanya dilakukan secara berjama’ah di masjid.

jumlah raka’at dan jumlah salam pada shalat tarawih, pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jumlah raka’atnya adalah 8 raka’at dengan dilanjutkan 3 raka’at witir. Dan pada zaman khalifah Umar menjadi 20 raka’at dilanjutkan dengan 3 raka’at witir.

Perbedaan pendapat menyikapi boleh tidaknya jumlah raka’at yang mencapai bilangan 20 itu adalah tema klasik yang bahkan bertahan hingga saat ini.

Sedangkan mengenai jumlah salam praktek umum adalah salam tiap dua raka’at namun ada juga yang salam tiap empat raka’at. Sehingga bila akan menunaikan tarawih dalam 8 raka’at maka formasinya adalah salam tiap dua raka’at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka’at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka’at.

Untuk lebih jelasnya, ayo kita ngaji….!!!!


Incoming search terms for the article:

2 thoughts on “Pengertian Shalat Tarawih

  1. Pingback: Pengertian solat tarawih « Olih Nurjaman Solih

  2. alislamarrahman.wordpress.com

    HUJJAH-HUJJAH SALAT TARAWIH (LEBIH DARI 11 RAKA’AT)

    Assalamu’alaykum Warrahmatullahi Wabarakatuh…
    In the name of Allah, Most beneficent, Most Merciful.

    Ibnu Hajar Al Atsqalani (rhm.) berkata: “Salat berjama’ah di malam bulan Ramadan disebut Tarawih” (Fathul Bari, 4/294).

    Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, kita mengetahui bahwa ada perbedaan pendapat di kalangan umat Islam mengenai jumlah salat Tarawih yang dikerjakan. Sebagian di antara mereka lebih menekankan salat qiyamul lail sebanyak 11 raka’at sesuai petunjuk Nabi Muhammad SAW, sedangkan sebagian yang lain mengerjakan lebih dari 11 rakaat berdasarkan hujjah-hujjah yang mereka punya. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, namun perbedaan ini pun mewarnai tubuh umat Islam secara internasional. Jika terjadi masalah khilafiyah dalam fikih, maka jalan terbaik adalah saling menghormati dan tidak mendiskreditkan saudara kita yang lain yang memiliki beda pemahaman. Sungguh, terlalu memojokkan mereka sama saja dengan berperan sebagai pemecah belah agama.
    Bagi umat yang melaksanakan baik itu salat qiamul lail, tahajud, maupun tarawih yang sebatas 11 raka’at, maka kita tak bisa menyalahkan mereka yang mencukupkan diri dengan mengikuti hadist Nabi SAW. Ada hujjah kuat mengenai hal ini, Aisyah ditanya oleh Abu Salamah bin Abdurrahman: “Bagaimanakah salat malam Nabi pada bulan Ramadan?” Aisyah menjawab: “Rasulullah tidak menambah jumlah raka’atnya lebih dari sebelas raka’at apakah pada bulan Ramadan atau bulan-bulan lainnya.” (HR. Bukhari-Muslim)
    Hadist di atas sudah mencukupi bahwasanya baik pada bulan Ramadan maupun pada bulan lainnya Nabi tidak pernah salat malam melebihi sebelas raka’at. Kesimpulannya, janganlah mencela mereka yang mendirikan salat malam sebatas sebelas raka’at karena mereka telah mengikuti apa yang dicontohkan Nabi SAW. Artikel kali ini akan membahas hujjah-hujjah yang membolehkan salat tarawih yang mana jumlah rakaatnya melebihi 11 raka’at. Hal ini tidak wajib diikuti bagi yang tidak meyakini, namun cukuplah dijadikan tambahan wawasan. Berikut ini adalah penjelasannya:

    1. Imam Bayhaqi berkata; Abu Abdullah Al Husain bin Muhammad Ibnu Husain Ibnu Finjaiyah memberi tahu kami bahwa Ahmad bin Muhammad ibnu Ishaq As Sunni memberi tahu kami bahwa Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz Al Baqhawi memberi tahu kami bahwa Ali bin Ja’ad mengatakan kepada kami bahwa Ibnu Abi Zi’ib mengatakan dari Yazid bin Khusayfah yang mengatakan dari Sa’ib bin Yazid, dia berkata: “Kami biasa berdiri di masa Umar (r.a) sebanyak 20 rakaat dan witir” (As Sunan Al Kubra, 2/496. Imam Bayhaqi). Sanad di atas di shahihkan oleh Ibnu Iraqi (Irshadus Shari Allamah Qastalani, 4/578). Imam Nawawi dan Imam Suyuthi menshahihkan sanad di atas (Tukhfatul Akhyar, hal. 196).
    2. Imam Malik meriwayatkan dari Yazid bin Rumman: “Orang-orang biasa berdiri pada masa Umar (r.a) sebanyak 23 raka’at pada bulan Ramadan” (Al Muwatha Imam Malik, hal. 92). Atsar ini menjadi permasalahan karena Yazid bin Rumman tidak hidup pada masa Umar, sehingga sanadnya munqati (terputus). Namun bantahan terhadap hal ini dinyatakan oleh Imam Syafi’i yang berkata: “Kitab paling tsiqah (terpercaya) setelah Kitabullah adalah Al Muwatha Imam Malik. Para ulama hadist tak ragu bahwa apa yang terdapat di dalamnya adalah shahih berdasarkan pendapat Imam Malik dan orang yang mengikuti beliau. Sebagian yang lain berpendapat tidak ada yang mursal (tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi) maupun munqati (terputus) melainkan sanadnya muttasal kepadanya (Imam Malik) dari jalur perawi yang lain” (Kifayah, hal. 384).
    3. Yazid bin Rumman meriwayatkan: “Yahya bin Sa’id berkata bahwa Umar (r.a) memerintahkan orang-orang untuk mengerjakan salat 20 raka’at bersama mereka” (Mushnaf Ibnu Abi Shaybia, 2/165).
    4. Abdul Aziz bin Rufa’i berkata: “Ubay bin Ka’ab biasa mengerjakan salat 20 rakaat dan 3 witir dengan orang-orang pada bulan Ramadan di Madinah” (Mushnaf Ibnu Abi Shaybia, 2/165).
    5. Syamsuddin Ibnu Qudamah mengatakan: ”Dalil kami adalah bahwa Umar mengumpulkan orang-orang di belakang Ubay bin Ka’ab yang mana dia biasa mengerjakan 20 rakaat bersama mereka. Sa’ib bin Yazzid telah meriwayatkan ini. Imam Malik meriwayatkan dari Yazid bin Rumman yang berkata: Orang-orang biasa berdiri pada masa Umar di bulan Ramadan sebanyak 23 raka’at. Abdurrahman Sulami meriwayatkan dari Ali bahwa ia menyuruh orang-orang untuk mengerjakan 20 rakaat bersama mereka” (Asy Syarhul Kabir, 1/784).
    6. Bahauddin Al Maqdisi mengatakan: ”Ini (tarawih) adalah 20 rakaat setelah Isya di bulan Ramadan” (Al Uddah Syarah Umdah, hal. 88).
    7. Allamah Ibnu Raushd Al Qurtubi mengatakan: ”Ulama berbeda pendapat mengenai jumlah rakaat yang harus dikerjakan orang pada bulan Ramadan” (Bidayatul Mujtahid, 1/306).
    8. Imam Nawawi berkata: “Tarawih adalah 20 raka’at dengan 10 salam” (Rawdatut Talibin, 1/437).
    9. Imam Syafi’i berkata: “Aku melihat mereka mengerjakan 39 rakaat di Madinah dan yang kupilih adalah 20 rakaat karena ini diriwayatkan oleh Umar. Mereka mengerjakan 20 rakaat dan 3 witir di Mekkah” (Kitabul umm, 1/142).
    10. Imam Syafi’i berkata: “Ini apa yang kutemukan di kampung halaman kami di Mekkah. Mereka mengerjakan 20 rakaat” (Jami’ut Tirmidzi, 1/99).
    11. Syamsuddin As Saraksi berkata: “Ini (tarawih) 20 rakaat diluar witir menurut kami” (Kitabul Mabsut, 2/144).
    12. Mu’az Abu Halima adalah salah seorang sahabat yang syahid pada peristiwa Al Harrah. Ibnu Sirrin menyaksikan dia mengerjakan 41 rakaat di bulan Ramadan. (Tuhfatul Akhwazi, 7/72).
    13. Daud bin Qais menyebutkan: ”Aku telah melihat orang-orang di Madinah mengerjakan 36 rakaat pada masa Umar bin Abdul Aziz” (Qiyamul Layl, hal. 91).
    14. Imam negri Kuffah, Sufyan Ats Tsauri memilih pendapat 20 raka’at (Tuhfatul Akhwazi, 2/75).
    15. Di Basrah, Zurara Ibnu Aufa yang merupakan murid Abu Hurairah, Imran bin Husain, dan Ibnu Abbas, biasa mengerjakan 28 rakaat di 20 hari pertama Ramadhan dan 34 rakaat di 10 hari terakhir (Tuhfatul Akhwazi, 2/73).
    16. Di Baghdad, Imam Ahmad memilih 20 raka’at (Bidayatul Mujtahid, 1/192).
    17. Sa’id bin Jubair yang merupakan murid Ibnu Abbas biasa mengerjakan 24 dan 28 raka’at (Tuhfatul Akhwazi, 2/73).
    18. Harits A’war yang merupakan sahabat Ali (r.a) biasa mengerjakan 20 raka’at (Mushnaf Ibnu Abi Shaybia, 2/393).
    19. Ali bin Rabi’ah yang merupakan musrid Ali (r.a) biasa mngerjakan 20 raka’at tarawih dan 3 witir (Mushnaf Ibnu Abi Shaybia, 2/393).

    Kurang lebihnya sampai di sinilah hujjah yang bisa disampaikan, akan tetapi mungkin saja di luar sana masih banyak hujjah lain mengenai hal ini. Dari atsar dan keterangan di atas bisa dilihat bahwa banyak para pendahulu kita yang ternyata mengerjakan tarawih melebihi 11 raka’at, di antara mereka ada yang mengerjakan 23, 36, 39 dan 41 raka’at. Sebagai thalibul ilmi, kita tak mengetahui pasti mana yang paling benar di antara permasalahan ini. Cukuplah kita serahkan semua kepada Allah Yang Maha Tahu. Sikap kita adalah menghormati perbedaan pendapat di kalangan para ulama dan umat. Jika hal ini dibawa kepada permasalahan serius, dikhawatirkan akan membahayakan ukhuwah islamiyah.
    Sekali lagi, tidak masalah jika tidak menyetujui pendapat jumlah raka’at yang melebihi 11 raka’at perihal salat tarawih. Jadikan hal ini sebagai wawasan kita semua sebagai bagian dari ilmu dan semoga artikel ini mermberi manfaat walaupun hanya setitik saja. Hanya Allah saja tempat kita mengadu, memohon pertolongan dan kemudahan jalan, serta berlindung dari segala dengki, hasud, dan fitnah lidah-lidah manusia yang tak terkendali. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saudara kita yang tidak sengaja diperbuat olehnya.
    Wassalamu’alaykum, Wr. Wb….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>